Perubahan perlu pengorbanan. Setidaknya mengorbankan sedikit waktu untuk mengevaluasi keberadaan. Mengapa kita harus bersama institusi yang bernama Otoritas Jasa Keuangan. Institusi ini bahkan masih menjadi wacana sampai dengan tiga tahun lalu ketika akhirnya menjadi keniscayaan. Saat ini institusi ini malah menjadi kekuatan. Hampir tidak ada institusi lain di muka bumi ini yang memiliki kekuasaan sebesarnya. Namun bukan itu yang perlu dibanggakan. Meskipun pendanaan masih terus menjadi pertanyaan, tapi semua kinerja dua tahun belakangan amat diperhitungkan.
Charles Darwin mengatakan “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change”. Maukah kita beradaptasi dengan situasi, atau kembali hanya mejalani rutinitas kehidupan saja. Industri jasa keuangan adalah suatu tantangan. Menjadi bagian dari otoritas yang mengaturnya adalah sebuah kebanggaan. Tidak hanya berhenti disitu, institusi ini memberikan kesempatan untuk menorehkan peninggalan dalam kehidupan. Peninggalan yang terus akan dikenang karena kita mewujudkan fondasi dasar agar insitusi ini dapat berjalan lancar.
Ketidakpastian tentu menjadi pemikiran. Demikian juga ketika bergabung tiga tahun lalu. Amat sulit mencari individu yang berminat untuk bergabung karena dipenuhi serba ketidakpastian. Namun Eleanor Roosevelt mengatakan ” If life were predictable it would cease to be life, and be without flavor”. Hidup menjadi hambar, karena dijalani tanpa rasa kebanggaan. Rutinitas semata. Namun berhenti sejenak dan lihat keluar sana, betapa semua berduyun mengantri di pintu luar ingin masuk dan menjadi bagian. Mengapa pula kita yang sudah di dalam ingin keluar dan memilih rutinitas dan kehambaran?
Teringat kata-kata seorang yang amat bijak manakala harus meniti kehidupan. Mungkin institusi ini bukan pilihan yang terbaik, tetap jangan pula hati ini menyesal tanpa memberi kesadaran bahwa disini kita bisa merajut kehidupan. Tidak ada kehidupan yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. Namun kita bisa mengupayakan. Rumah ini masih hampa, masih banyak ruang yang perlu ditata. Masih banyak membutuhkan bantuan untuk mengisi dan memberi warna. Pemimpin rumah ini adalah salah satu yang menjadi pertimbangan. Bijak dan penuh pengertian. Sepantasnyalah kita berjalan beriringan dalam kepemimpinannya.
Apakah kesejahteraan menjadi pertimbangan utama. Apakah kesempatan memberi warna kehidupan bisa mengalahkannya. Tak perlu keraguan kesejahteraan akan menjadi bagian warna tersebut. Namun jangan hidup menjadi penuh perhitungan. Pada suatu persimpangan yang kesekian, kesempatan menjadi satu-satunya pijakan. Dia akan mengantarkan kita kepada suatu periode kehidupan berbeda yang akan menjadi lukisan bermakna. Suatu saat nanti, saat menoleh ke belakang kita dipenuhi rasa bangga. Menjalani kehidupan yang berwarna, mewariskan peninggalan. Memberikan suara dalam menghidupi sekian ratusan juta manusia melalui institusi ini.
Tuhan Maha Segala. Dia yang membimbing kita ke arah yang sebenarnya dalam kehidupan. Semakin mendekat, tanda tersebut semakin jelas terlihat. Kita tentu perlu terus meminta, agar ditunjukkan jalan yang memberi makna kehidupan dan persiapan baka. Sejauhmana kita hendak melangkah ditentukan pilihan. Pilihan tersebut perlu mendapat ridlo-Nya. Mari mendekat dan meyakini pilihan. Setelah itu lihat terus ke depan, jangan (lagi) menoleh ke belakang.