Beberapa waktu terakhir ini kita menyaksikan banyak sekali satuan kerja meluncurkan program budaya mereka. Kegiatan tersebut dilakukan hampir serentak, dengan berbagai macam kegiatan dan kemeriahan. Seluruh pimpinan mulai dari Anggota Dewan Komisioner, Deputi Komisioner, Kepala Departemen, Kepala Regional, Direktur dan Kepala OJK hadir tidak skedar memeriahkan, namun memberikan arahan mengenai pentingnya program budaya bagi seluruh insan OJK di satuan kerja. Kegiatan ini bukan dimaksud hanya sekedar seremonial, namun tetap mengandung makna. Apa saja yang dituju dari kegiatan launching budaya ini?
Tahun lalu tidak seluruh satuan kerja meluncurkan program budaya mereka, sehingga terkadang ada insan OJK yang tidak memahami program budaya satuan kerja mereka. Ada juga satuan kerja yang melakukan peluncuran di tengah tahun, sehingga waktu untuk pelaksanaan program budaya tinggal setengah tahun. Untuk menyeragamkan kegiatan maka pada tahun ini Direktorat Manajemen Perubahan merekomendasikan agar seluruh satuan kerja mengadakan kegiatan peluncuran program budaya masing-masing di awal tahun. Walhasil minggu akhir bulan Februari menjadi waktu yang paling padat dengan peluncuran program budaya satuan kerja. Antusiasme peluncuran melebihi ekspektasi dan membuat optimisme timbul akan budaya kerja OJK yang semakin baik di masa mendatang.
Ada beberapa hal yang ingin dicapai melalui kegiatan dimaksud. Pertama, pengenalan Kelompok Mitra Perubahan (KMP) Satuan Kerja. Rutinitas yang tinggi terkadang membuat insan OJK kurang peduli dengan lingkungan sekitar, termasuk keberadaan KMP. Untuk itu KMP yang formasinya adalah change leader, change partner dan change agent perlu diperkenalkan kepada seluruh pegawai. Masing-masing akan menjalankan perannya dalam pelaksanaan program budaya satuan kerja, sehingga terdapat akuntabilitas yang jelas.
Kedua, penjelasan program budaya nasional dan program spesifik satuan kerja. Tahun ini disusun program budaya dengan tema service excellence atau pelayanan prima. Terdapat tiga program budaya nasional yaitu OJK RAMAH, OJK CERDAS dan OJK SEHAT. Sementara itu terdapat satu prgram nasional yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi satuan kerja yang dikaitkan dengan teman pelayanan prima yaitu OJK GESIT. Umumnya nama program ini kemudian disesuaikan dengan kondisi satuan kerja sehingga mudah diterima dalam pelaksanaan tugas.
Ketiga, membangun komitmen seluruh insan OJK di satuan kerja. Program budaya merupakan program perubahan paradigma dan perilaku individu yang kemudian secara kumulatif menjadi budaya satuan kerja. Untuk itu perubahan hanya pada sekelompok insan OJK tidak akan membuahkan budaya yang utuh, namun memerlukan perubahan pada seluruh insan OJK tersebut. Selain perubahan akan dilakukan secara lebih cepat, mekanisme monitoring juga akan berjalan dengan baik karena seluruh insan OJK dengan penuh kesadaran akan saling mengingatkan komitmen yang diikrarkan pada peluncuran program budaya satuan kerja.
Sukses atau tidaknya peluncuran program bukan tergantung pada meriah atau tidaknya peluncuran, namun meningkat atau tidaknya pemahaman seluruh insan OJK di satuan kerja tersebut kepada tiga hal tersebut di atas. Meskipun anggaran peluncuran disediakan secara minimal, namun ternyata banyak juga satuan kerja yang melakukan peluncuran secara swadaya dan tidak menggunakan anggaran satuan kerja. Apakah ini berarti yang menggunakan anggaran satuan kerja tidak lebih baik, bukan berarti demikian. Masing-masing memiliki alasan tersendiri dan tidak ada yang salah dan benar. Bagi DMPB yang penting tiga tujuan dari pelaksanaan peluncuran di atas tercapai.
Apabila pemahaman mengenai program budaya kerja sudah terbentuk, maka selanjutnya adalah yang yang paling krusial dalam sebuah program budaya yaitu memastikan energi, waktu dan komitmen seluruh insan OJK terjaga sepanjang tahun. Peluncuran yang meriah akan sia-sia apabila setelah peluncuran insan OJK dengan segera melupakan komitmen mereka terhadap implementasi program budaya. Untuk itu monitoring program secara periodik dilakukan, sehingga akan terlihat konsistensi satuan kerja dalam pelaksanaan program budaya mereka. Peran change leader amat krusial dalam eksekusi program, dimana mereka harus mampu memberikan suntikan motivasi dan memberikan arahan yang diperlukan apabila terdapat permasalahan.
Pelaksanaan program budaya pada akhirnya merupakan bagian dari suatu lomba budaya nasional OJK. Pada akhir tahun kita akan mengetahui satuan kerja mana yang mengimplementasikan program dengan baik relatif dibanding dengan yang lain. Namun demikian lomba yang sesungguhnya ada di dalam diri kita yaitu setiap insan OJK untuk berlomba dalam berbuat kebajikan. Apabila seluruh insan OJK telah memiliki niat yang sama, tidak akan lama lagi kita akan menyaksikan OJK menjadi sebuah institusi yang memiliki kinerja dan reputasi yang unggul dibanding institusi lainnya di negeri ini. Pada saat itu kita akan bangga kepada OJK. Kalau demikian, tunggu apa lagi mari kita saling berlomba dalam kebajikan.