Sepakbola bisa merefleksikan semua pelajaran mengenai pengelolaan talenta, kepemimpinan, manajemen perubahan dan lainnya. Kali ini mengenai daya tarik sebuah klub sepakbola, sehingga mampu menarik talenta terbaik yang ada di pasar. Pertanyaan simpel, mengapa hampir seluruh pemain sepakbola mengidamkan bermain di klub seperti Real Madrid, Barcelona atau Manchester United? Apa yang membuat klub-klub tersebut menjadi pelabuhan bagi talenta sepakbola sejagad?
Edward E. Lawler III mengatakan “An employer brand needs needs to speak to what individual can expect when they join an organization and it needs to help individuals whether they are a good fit for the organization”. Sebuah organisasi perlu mampu menjelaskan apa yang dapat diekspektasi bagi para talenta yang akan bergabung dengannya. Lebih jauh lagi Minchington menjelaskan mengenai employee value proposition yaitu “a set of associations and offerings provided by an organisation in return for the skills, capabilities and experiences an employee brings to the organisation”. Apa saja yang bisa ditawarkan oleh sebuah organisasi agar dapat menarik talenta terbaik untuk bergabung? Umumnya ada empat hal yaitu reputasi organisasi, pekerjaan yang menantang, kepemimpinan yang baik dan, tentu saja, kompensasi yang menarik.
Ketiga klub disebutkan di atas memiliki seluruh komponen untuk mampu menarik talenta terbaik di pasar. Pertama soal reputasi klub. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa ketiga klub tersebut saat ini memiliki reputasi sebagai klub terbaik di dunia. Reputasi tersebut bisa saja karena prestasinya seperti Barcelona dan Manchester United, tetapi bisa juga terbentuk karena “semua pemain terbaik dunia pernah bermain di klub tersebut” seperti di Real Madrid. Dua hal tersebut akan membawa kebanggaan bagi para pemain bila bergabung dan bisa berkata di dalam hati “I am part of this great club, so everyone knows my achievement. Please be jealous of me”. Reputasi organisasi merupakan unsur terpenting untuk dapat menarik talenta terbaik di pasar. Ketiga unsur yang lain bisa saja tidak terpenuhi, tetapi tetap mampu menjadi pilihan talenta. Di sisi lain, reputasi merupakan hal yang tidak mudah untuk dibangun. Reputasi tidak bisa dibangun dalam satu malam. Ada sejarah perjuangan untuk membawa ketiga klub di atas sampai dengan reputasi terbaik seperti sekarang ini.
Selanjutnya adalah pekerjaan yang lebih menantang. Umumnya klub-klub terbaik akan bertanding di kompetisi tertinggi yaitu Champions League. Bermain di Champions League tentunya akan jauh lebih menarik daripada hanya di Europe League, atau hanya bahkan di kompetisi lokal saja. Oleh karena itu pekerjaan yang lebih menantang akan juga bisa membawa sebuah organisasi menjadi pilihan. Dapat saja seorang talenta bergabung dengan sebuah organisasi yang “biasa saja” namun terdapat potensi untuk menjadi organisasi yang “istimewa”. Tugas untuk menjadikan organisasi menjadi yang istimewa tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi talenta. Mengapa seorang Dirk Nowitzki tetap bertahan di sebuah klub Dallas Mavericks selama tiga belas tahun sejak tahun 1998, padahal tidak pernah merasakan menjadi juara? Pastinya karena ia meyakini bahwa klub tersebut memiliki potensi menjadi yang terbaik di kancah NBA. Hal ini terbukti pada season kemarin dimana Dallas akhirnya menjadi yang terbaik di NBA. Sudah pasti Dirk memiliki kepuasan yang tertinggi, karena dia berhasil “membawa” Dallas Mavericks dari “yang biasa” menjadi “istimewa”. Sudah pasti dia akan selalu menjadi legenda di Dallas Mavericks, sebagaimana Michael Jordan di Chicago Bulls.
Faktor ketiga sebagai daya tarik adalah kepemimpinan. Terdapatnya pemimpin-pemimpin tertentu pada sebuah organisasi akan menjadi daya tarik para talenta untuk bergabung. Pemain muda seperti si kembar Rafael dan Fabio, Phil Jones¸ Nani dan bahkan sebelumnya Cristiano Ronaldo meyakini bermain di bawah asuhan kepemimpinan Sir Alex Ferguson (SAF) akan membawa permainan mereka ke level tertinggi. Kesempatan yang diberikan oleh SAF kepada pemain muda sudah terlihat sejak “Class of 92” yang merevolusi prestasi dari Machester United. Para pemain muda binaan SAF tersebut kemudian merajai kompetisi di premier league dan ultimate achievement-nya adalah piala champion di tahun 1999 dengan mengalahkan Muenchen di Barcelona. Demikian juga Pep Guardiola di Barcelona yang banyak memberikan kesempatan pemain muda binaan akademi los cules untuk masuk tim utama, berbuah hasil gelar juara di Spanyol dan juga Eropa. Tentunya para talenta muda di pasar akan memimpikan untuk bisa dilatih oleh SAF dan Pep karena meyakini kedua orang tersebut akan mampu mengangkat kualitas permainan mereka ke jenjang yang tertinggi. Kepemimpinan menjadi unsur penting karena figur-figur pemimpin tertentu mampu menarik talenta terbaik di pasar untuk bergabung dengan organisasi.
Faktor terakhir dan biasanya yang paling menarik adalah soal kompensasi Tentunya semakin tinggi kompensasi yang ditawarkan, akan semakin menarik bagi talenta di pasar. Organisasi bisa saja belum memiliki reputasi yang baik, tidak memiliki pekerjaan yang menantang dan kepemimpinan yang baik, tetapi tetap menarik bagi talenta karena memberikan kompensasi yang tinggi. Namun apabila kita masuk ke dunia sepakbola umumnya klub yang bisa menawarkan kompensasi yang tinggi menyaingi negara Eropa adalah yang berbasis di jazirah Arab. Itu sebabnya Gabriel Batistuta selama dua kompetisi mau bergabung dengan Klub Al Arabi di Qatar pada penghujung karirnya, atau saat ini Fabio Cannavaro yang bergabung dengan Al Ahly di United Arab Emirates (UAE). Namun demikian biasanya yang mau bergabung adalah talenta yang sudah di penghujung usia karir mereka, bukan yang sedang dalam puncak performa.
Berdasarkan keempat faktor di atas, maka kita bisa menganalisa mengapa seorang bintang mau bergabung dengan salah satu klub. Misalnya Alexis Sanchiz, salah satu komoditi terpanas di summer break. Mengapa hanya mau berpindah ke Barcelona dan tidak mau pindah ke Manchester City yang menawarkan kompensasi lebih besar? Karena reputasi dan prestasi Barcelona saat ini lebih besar daripada City. Level kompetisi sama-sama di champions league, namun faktor Pep Guardiola juga lebih menarik ketimbang seorang Roberto Mancini. Mungkin ini juga yang menyebabkan seorang Jerome Boateng akhirnya memutuskan pindah dari City ke Bayern Muenchen meskipun kompensasi yang diterima sudah di tinggi City. Boateng meyakini bahwa bermain dibawah juup heynckes lebih nyaman dibanding Mancini.
Apakah kondisi di atas berlaku juga di Indonesia? Biasanya kebanyakan orang akan dengan mudah menyatakan “itu kan di barat, susah kalau disini..”. Mungkin tanggapan seperti ini hanya sebuah bentuk resistensi terhadap suatu perubahan yang terjadi di persepakbolaan Indonesia. Sebuah organisasi kompetisi untuk menarik perlu mendasarkan kepada empat hal tersebut di atas. Sebuah organisasi klub juga perlu mendasarkan diri atas keempat hal tersebut diatas agar bisa menarik talenta terbaik di pasar. Misalnya saja seorang Rahmat Darmawan sebagai seorang pelatih akan mampu menjadi magnet para talenta terbaik untuk bermain di bawah asuhannya. Persipura yang memiliki prestasi tinggi serta dukungan yang fanatik dari penonton tentunya juga memiliki daya tarik yang cukup tinggi juga bagi para talenta. Pelita Jaya meskipun belum memiliki prestasi yang memadai, namun didukung kekuatan finansial grup Bakrie tentunya juga akan mampu menarik talenta terbaik akrena mampu memberikan kompensasi yang relatif tinggi dibanding klub lain. Kita bayangkan saja apabila ada klub yang memiliki reputasi dan prestasi seperti persipura, bermain sampai dengan level liga champions Asia, memiliki pelatih seperti Rahmat Darmawan dan didukung kekuatan finansial seperti Pelita Jaya, bukan tidak mungkin klub ini akan menjadi Barcelonanya Indonesia, atau bahkan di Asia Tenggara. Semoga terwujud.