Banyak mitos mengenai kepemimpinan, salah satu yang terbesar adalah leaders are born, not made. Seseorang menjadi pemimpin sejak lahir, tidak mungkin dikembangkan. Pemimpin besar dunia seperti Mahatma Gandhi, Adolf Hitler, Mao Zedong atau Soekarno diyakini bahwa sejak lahir memang sudah memiliki kapasitas menjadi seorang pemimpin. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Center for Creative Leadership tahun 2012 menggambarkan bahwa hanya 19.1% yang pemimpin yang menjadi responden mengakui mereka dilahirkan sebagai pemimpin. 52.4% responden mengatakan mereka hasil pengembangan. Sementara 28.5% responden yang mengatakan mereka dilahirkan dan dikembangkan menjadi seorang pemimpin.Hal ini menunjukkan genetik memiliki pengaruh, namun lingkungan lebih berpengaruh pada pengembangan kepemimpinan seseorang.
Konsep assessment centermerupakan suatu proses pengukuran kesesuaian kompetensi (atau kualitas kepemimpinan) seseorang.Berdasarkan gap atau kesenjangan disusun program pengembangan kepemimpinan. Untuk bisa mengukur diperlukan standar sehingga hasil perbandingan antara standar dengan individu menghasilkan suatu kesenjangan. Standar ukuran yang dapat digunakan sangat variatif, misalnya nilai strategis atau values organisasi,namun umumnya ukuran yang digunakan adalah kompetensi kepemimpinan. Bagaimana kompetensi kepemimpinan di OJK?Pada awal operasional OJK, telah dilakukan workshop dengan melibatkan pegawai dan dipandu pihak eksternal yang kompeten, yang menghasilkan kompetensi kepemimpinan OJK. Komptensi tersebut adalah leading through vision and values, decision making, developing others dan continuous learning.
Pemimpin harus visioner, yaitu mampu menjelaskan bawahan mengenai arah dan tujuan suatu pekerjaan. Misalnya arah dan tujuan perjalanan adalah ke Bandung dan kita akan menggunakan kendaraan apa. Selama perjalanan anda sebagai seorang pemimpin harus mampu menjaga agar values OJK, yakni INPRESIV, dapat dilaksanakan dan terjaga selama perjalanan. Pemimpin diharapkan mampu memberikan gambaran bagaimana kontribusi pekerjaan bawahan terhadap pencapaian kinerja OJKsekaligus memberi contoh implementasi nilai-nilai strategis dalam keseharian pelaksanaan tugas.
Salah satu unsur terpenting dalam pelaksanaan tugas adalah pengambilan keputusan. Seorang pemimpin sesuai dengan tingkat dan kewenangannya mampu dan mau mengambil keputusan dan menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. Semakin lama keputusan diambil akan semakin banyak membawa konsekuensi waktu dan biaya atas pelaksanaan tugas. Berdasarkan hasil survey, salah satu masalah kepemimpinan adalah keberanian mengambil keputusan.
Tugas terbesar dari pemimpin adalah mengembangkan bawahan. Banyak pemimpin dunia mengatakan bahwa kesuksesan seorang pemimpin dilihat dari kesiapan pengganti. Hal ini yang kemudian menjadi dasar konsep suksesi di suatu organisasi. Agar mampu menyiapkan pengganti, pemimpin harus mampu mengembangkan kapasitas bawahan. Pengembangan ini bukan melulu melalui keikutsertaan dalam kursus atau seminar, justru yang lebih efektif adalah melalui pelaksanaan tugas. Seorang pemimpindiharapkan mampu mengeluarkan secara opimal kapasitas yang dimiliki bawahannya. Salah satu cara yang paling umum adalah memberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas dengan gaya mereka, sementara pemimpin hanya menjaga agar tujuan dan tanggungjawab terpenuhi.
Hal terakhir yang diharapkan dari kepemimpinan OJK adalah belajar berkelanjutan. Meskipun salah satu mitos kepemimpinan adalah seorang pemimpin harus selalu lebih pintar daripada bawahannya, namun adalah penting seorang pemimpin juga memahami seluruh pengetahuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas. Pengetahuan sendiri terus berkembang, sehingga proses belajar tersebut perlu dilkukan secara berkesinambungan. Ketidakpahaman atasan akan pengetahuan, akan membuatnya terlalu tergantung kepada bawahan.
Keempat kompetensi tersebut bukanlah sesuatu yang dilahirkan, namun kompetensi yang dapat dikembangkan. OJKI telah menyusun program kepemimpinan berjenjang berdasarkan kompetensi kepemimpinan tersebut. Namun demikian perlu kesadaran bahwa pengembangan diri seseorang tidak bergantung kepada organisasi, tetapi tergantung pada pola pikir dan niat diri sendiri.