Fokus Pada Kualitas, Bukan Drama Di Tempat Kerja

Bila anda penggemar kuliner, pasti juga menyaksikan tayangan masterchef di televisi. Sedemikian hitsnya sehingga ada berbagai versi, tergantung negara. Termasuk Indonesia. Namun saya ingin menyorot dua versi, yang asli dari Amerika Serikat dan versi Australia. Dua-duanya memiliki rating yang tinggi, namun memiliki “konsep” yang berbeda.

 

Masterchef asli dibuat dengan konsep banyak drama. Juri yang galak, intrik sesama peserta dan peserta yang “aneh” (baca: tukang bikin masalah dengan peserta lain), relatif disimpan sampai akhir season agar drama tetap ada sebagai bumbu tayangan. Kebalikannya Masterchef Australia dibuat dengan konsep juri yang baik hati dan sangat suportif, peserta yang “kekeluargaan” dan fokus kepada kualitas masakan.

 

Awalnya menonton versi asli mengasyikkan, namun ketika fokus lebih kepada drama peserta dan juri daripada kualitas masakan, acara tersebut bergeser menjadi acara drama dan bukan kuliner. Terkadang bahkan tantangan membuat suatu masakan hanya yang simpel dan tidak perlu menggunakan teknik memasak yang canggih. Masterchef Australia lebih menyajikan tantangan masakan yang tinggi dimana juri hampir tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang kasar dan sebaliknya selalu mengapresiasi hasil masakan peserta. Sesama peserta tidak pernah ada intrik slaing menjatuhkan, dan bahkan saling mendukung dan menguatkan sesama peserta. Walhasil karena fokus kepada kualitas, hasil masakan versi Australia amat luar biasa dan membuat tergoda. Chef sekelas Heston dan Nigella juga bisa terpukau dengan hasil masakan peserta.

 

Lalu apa hubungannya dengan kultur OJK? Saya hanya ingin mengambil analogi. Apabila kita masih fokus kepada “drama” seperti latar belakang institusi, lebih mengedepankan bidang, atau asyik bermain office politics, ketimbang kita fokus kepada pelaksanaan tugas kita dan OJK pada umumnya, kita akan berakhir menjadi masterchef original yang terus turun ratingnya. Setelah hampir lima tahun berdiri sudah sewajarnya perbedaan-perbedaan atau keanekaragaman bukan menjadi hambatan, namun justru menguatkan. Kita dituntut untuk saling empati dan bertoleransi sehingga tidak selalu melihat ke belakang.

 

Keterbatasan sumber daya yang ada juga bukan rintangan. Seluruh satuan kerja yang menyediakan sumber daya sudah berupaya seoptimal mungkin. Dalam upaya tersebut juga ada keterbatasa. Bukan hanya anggaran, terkadang malah ketersediaan produk yang dibutuhkan. Kilas balik kepada dua atau tiga tahun ke belakang, kondisi saat ini jauh lebih bagus. Apabila dalam suasana keterbatasan saja bisa berprestasi luar biasa, apalagi dalam suasana berkecukupan. Kita malah perlu berjaga agar jangan masuk ke perangkap kenyamanan.

 

Joe dan Graham sudah meninggalkan tugas sebagai juri masterchef america untuk memiliki program sendiri, menyisakan gordon dan christina.  Masterchef america makin kehilangan jiwanya. OJK jangan mengalami hal yang sama. Kita memiliki talenta-talenta terbaik di negeri ini, mari dikelola dengan sebaiknya. Institusi seperti OJK bergantung pada kekuatan talentanya, maka sewajarnya mereka terus berkembang setiap harinya.

 

Leave a comment