Tax Amnesty dan Sosok Pak Jati

Ketika Undang- Undang Tax Amnesty diberlakukan, saya tidak begitu peduli karena selama ini penghasilan sudah dipotong oleh tempat bekerja. Dari hasil diskusi dengan teman sejawat juga mengatakan tidak perlunya mengurus pengampunan pajak. Mengapa mesti ikut pengampunan sementara kita sudah dipotong oleh institusi? Program ini lebih ditujukan untuk repatriasi dana, yang semula diparkir di luar negeri untuk dibawa masuk sehingga bisa digunakan sebagai sumber dana pemerintah untuk membiayai proyek infrastruktur. Awalnya saya terpengaruh, namun setelah mendengar penjelasan lebih lanjut dalam sosialisasi dari dirjen pajak, saya mulai mengerti kebutuhan saya untuk mengikuti proses ini. Bukan karena sudah dipotong pajak, namun ternyata saya bukan termasuk orang yang tertib administrasi sehingga tidak melaporkan harta yang dimiliki dalam SPT sebelumnya. Tentunya ekspektasi dari pemerintah tidak tercapai untuk memiliki basis data wajib pajak yang benar apabila saya tidak ikut program ini. Ada juga opsi untuk pembetulan SPT, tapi karena tidak pernah melapor rasanya lebih riskan. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut program pengampunan ini, meskipun secara pribadi juga kurang berkenan dengan omongan insan pajak yang mengancam denda 200 persen apabila tidak melapor.

 

Saya tidak ingin bercerita mengenai kebijakan pengampunan pajak sendiri. Namun saya ingin bercerita bagaimana proses pengurusan tersebut dan sosok Pak Jati sebagai pegawai dirjen pajak yang amat menolong. Pada hari selasa, saya berangkat dari rumah ke kantor pajak pratama di Cilandak. Tujuannya untuk berkonsultansi mengenai rencana pelaksanaan kebijakan ini. Data semua sudah dilengkapi dan dibawa. Hari itu masih pagi, jam setengah delapan lewat sedikit. Saya langsung ke lantai 4 dimana proses pengurusan dilaksanakan. Ternyata di atas sana sudah ramai. Saya melihat banyak sekali warga negara keturunan yang tertib mengikuti proses. Bahkan ada juga dari mereka yang sharing pengalaman mengurus sehingga sudah sampai tahap akhir. Saya mengamati dan dan coba mengobrol dengan sesama wajib pajak yang sudah sampai pada tahap akhir, untuk menggali apa saja yang perlu dipersiapkan. Sampai akhirnya nomor saya dipanggil dan saya masuk ke dalam kubikal help desk. Saya berkenalan dengan petugas yang kemudian saya pahami bernama Pak Jati. Beliau dengan sabar memberikan pengarahan dan penjelasan terhadap kondisi saya dan apa yang mesti dilakukan. Kelihatan sekali meskipun terlihat letih, beliau berusaha memberi penjelasan dengan sebaiknya. Setelah paham, saya pamit dan bertanya apakah bisa berkonsultansi kembali apabila ada yang kurang jelas. Beliau mempersilahkan untuk datang kembali apabila masih ada yang kurang dimengerti seraya mengingatkan saya untuk mengambil CD untuk mendapatkan file untuk pelaporan.

 

Malamnya sepulang kerja saya mempelajari file tersebut dan sepertinya tidak begitu rumit, sehingga saya mencoba mengisinya. Namun demikian ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Keesokan harinya sepulang dari kantor saya mencoba mampir kembali ke KPP Cilandak dan bertemu dengan Pak Jati. Syukur alhamdulillah beliau ada meskipun banyak tamu lain yang  ingin konsultansi hal yang sama. Setelah menunggu, saya dipersilahkan bicara dengan Pak Jati. Beliau kembali membimbing dan menjelaskan saya secara sabar. Keesokan harinya beliau juga memberi waktu untuk menemani proses penyerahan, dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Rasa penasaran saya apakah sekiranya beliau mengharapkan imbalan dari bantuannya tersebut. Ternyata tidak! Beliau melakukannya dengan tulus dan ikhlas dan berkata semua demi negeri ini. Mungkin terkesan lebay, tapi demikianlah kebaikan Pak Jati. Saya mendoakan agar pelaksanaan tugas beliau selalu dimudahkan dan dilancarkan. Semoga institusi saya juga memiliki spirit yang sama untuk menjalankan service excellence. Aamiin.

 

Leave a comment