Hillary Clinton mengatakan, “Women are the largest untapped reservoir of talent in the world”. Terdengarnya berlebihan, tapi perlu juga mendapat perenungan. Apakah benar wanita selama ini kurang memberikan warna pada sejarah dunia ketimbang pria? Apabila kita melihat hasil sensus dunia pertengahan tahun 2015, perbandingan jumlah pria dan wanita adalah berimbang. Jumlah pria adalah 3.6 miliar dan wanita sebesar 3.5 miliar. Perbedaannya tidak terlalu banyak, namun apakah jumlah wanita yang kemudian menjadi pemimpin juga sebanding dengan persentase tersebut?
Data dari United Nation Women, menggambarkan bahwa terjadi kenaikan yang cukup signifikan dari jumlah wanita yang masuk ke parlemen. Sejak tahun 1995 ke tahun 2015 jumlah wanita di parlemen ternyata meningkat dua kali lipat. Namun demikian kenaikan dua kali lipat tersebut hanya memberikan kontribusi sebesar 22% jumlah wanita yang bekerja sebagai anggota parlemen di seluruh dunia. Dari sisi pemimpin negara, pada bulan Juli 2015 tercatat 18 orang wanita yang memimpin pemerintahan dan 11 orang wanita yang memimpin negara. Total terdapat 1 dari 10 orang pemimpin negara yang wanita, atau 10 % dari total pemimpin negara. Data ini menyajikan fakta bahwa wanita juga banyak berperan dalam proses perubahan di dunia.
Apakah wanita lebih lemah dibanding pria dalam hal kepemimpinan? Pada dasarnya terdapat perbedaan karakteristik seorang pemimpin wanita dan pria. Pertama, cara berpikir wanita yang cenderung pada konsep dan lebih menjalin hubunganb, sedangkan pria cenderung didasari oleh fakta. Kedua, cara pengambilan keputusan wanita yang fokus pada pencapaian sasaran sekaligus mempertimbangkan penilaian orang lain, sedangkan pria cenderung memfokuskan pada hasil akhirnya. Ketiga, cara menyampaikan pendapat wanita yang lebih halus, peka, dan hati-hati, sedangkan pria lebih tegas dan berterus terang. Dari ketiga hal tersebut tampak bahwa wanita dan pria memiliki karakteristik yang cukup berbeda, namun karakter-karakter tersebut dapat memberikan sentuhan yang berbeda saat wanita menjadi pemimpin. Wanita yang mampu bertindak sebagai pemimpin memiliki sifat ganda, baik sebagai wanita yang feminin dan memiliki kekuatan berupa ketegasan serta ketegaran. Dengan demikian kepemimpinan tidak menjadi milik kaum pria, wanita juga memiliki kesempatan yang sama sesuai dengan kondisi dan situasi organisasi masing-masing.
Di OJK sendiri wanita dan pria diberikan kesempatan yang sama dan cukup seimbang untuk menjadi pemimpin. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah Anggota Dewan Komisioner wanita yang berjumlah 3 orang dari total 9 Anggota Dewan Komisioner OJK. Para Anggota Dewan Komisioner tersebut selama ini telah mmeberi warna terhadap pasar modal, edukasi dan perlindungan konsumen, manajemen resiko dan governance di OJK. Selain itu, kita juga bisa melihat bahwa jumlah wanita yang menduduki peranan penting dan strategis di OJK juga cukup banyak. Dimulai dari adanya 4 wanita dari total 12 Deputi Komisioner, 12 wanita dari total 67 Kepala Departemen, serta 31 wanita dari total 112 Direktur. Dari data ini tampak bahwa OJK memberikan peluang yang sama terhadap wanita untuk memegang peranan penting dan menjadi pemimpin.
Keberlangsungan OJK ke depannya tentu menjadi tanggung jawab semua insan OJK, namun kita bisa secara lebih spesifik melihat bagaimana peranan wanita yang akan menjadi calon pimpinan OJK nantinya. Dari data ditemukan bahwa terdapat 1311 insan OJK wanita yang berada di bawah usia 40 tahun, dimana usia ini dianggap sebagai usia produktif dan calon pimpinan OJK di masa yang akan datang. Dari keseluruhan jumlah ini, terdapat 325 orang wanita yang sudah menduduki posisi Kepala Sub Bagian hingga Deputi Direktur. Dengan adanya fakta ini, mengingatkan kita semua bahwa keberhasilan OJK berada di tangan para generasi muda, sehingga diharapkan agar semua insan OJK, khususnya wanita, turut berperan dalam memajukan OJK dengan menggali potensi dan kualitas yang ada di diri masing-masing.
Pembangunan kultur melalui program perubahan dan budaya satuan kerja di OJK juga tidak terlepas dari sentuhan wanita. Tercatat 25 wanita dari total 66 Change Partner yang merupakan wanita. Belum lagi apabila kita menghitung jumlah Change Agent yang berdasarkan pengamatan kami sebagian besar juga wanita. Dari mereka program perubahan dan budaya kerja satker bisa lahir dan bergulir sesuai dengan yang diharapkan. Mereka sedang menulis sejarah atas partisipasinya untuk menjadikan OJK sebagai institusi yang dikenal memiliki program kultur dan perubahan yang terbaik di negeri ini.
Berdasarkan fakta yang kita lihat di atas, baik di dunia kerja secara umum dan OJK khususnya, wanita memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan pria dalam hal kepemimpinan dan melakukan perubahan. Kepemimpinan wanita berfungsi sebagai mitra dari kepemimpinan laki-laki, sehingga wanita memiliki porsi yang sama dengan pria untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk itu insan OJK wanita harus memperlihatkan kualitas diri dan kinerja yang maksimal, agar memiliki kesempatan untuk bersaing menduduki posisi strategis dan penting di OJK. Kini saatnya para wanita terus berkarya, maju, dan memiliki peran penting dalam kepemimpinan. Salam Inpresiv!
(ditulis bersama Amanda Djakman)