Ketika satuan kerja berlomba-lomba untuk mencari tahu tema program apa yang akan diluncurkan pada tahun ini, kepemilikan program sudah beralih pada pemimpin satuan kerja. Pada saat itu kita lebih berperan sebagai konduktor sebuah orkestra. Kita memastikan bahwa pelaksanaan seluruh program sesuai dengan harmonisasi irama yang diharapkan. Tingkat kesulitan kemudianpun beralih tidak lagi menjadi coach dari program budaya kerja, namun menjadi wasit dari pelaksanaan program. Seluruh pemain memahami aturan main, namun untuk menjadi pemenang terkadang semangat mereka melebihi rasionalitas sehingga berupaya untuk menghalakan segala cara.
Apakah semua satuan kerja ingin menjadi pemenang bukan suatu kebaikan? Mengapa mereka hanya ingin menjadi pemenang? Dimana esensi dari pelaksanaan program budaya kerja? Jangan terlalu sinikal terlebih dahulu. Bahwa semua ingin menjadi pemenang adalah suatu proses menjadi sebuah komitmen. Semakin ingin mereka menjadi pemenang, semakin serius mereka melaksanakan program. Sehingga pada suatu titik mereka akan menyadari bahwa mereka memahami bahwa esensi program bukan pada sebuah kemenangan namun pada manfaat yang diterima dari implementasi yang dilakukan. Pelaksanaan program membawa kebahagiaan. Pelaksanaan program membawa keseimbangan. Mereka tidak hanya mengasah sisi kiri dari otak mereka, tetapi juga sisi kanan. Keseimbangan itu yang pada akhirnya membawa keseimbangan. Kondisi tersebut kemudian terbawa pada suasana kerja sehingga tercipta lingkungan yang kondusif.
Saat ini masih banyak keterpaksaan dalam pelaksanaan program. Tidak perlu kawatir dengan kondisi demikian. Kita perlu melihatnya sebagai suatu proses. Analogi terdekat adalah soal ibadah shalat. Pertama kita terpaksa melaksanakan karena takut kepada orang tua. Kita melaksanakan karena takut neraka. Namun ketika kita melaksanakan ada perasaan yang berbeda, dan bila secara konsisten kita melakukan maka kemudian tumbuh sebuah kebutuhan. Pada saat itu apabila kita tidak melakukan, bukan lagi rasa takut yang ada namun rasa kehilangan. Kita merasa kehilangan karena tidak komunikasi dengan Sang Maha Pencipta. Kita butuh komunikasi tersebut agar ada kedamaian dalam diri kita. Meskipun tidak seekstrim tersebut, namun pelaksanaan program budaya esensinya sama.
Kita perlu meyakini bahwa sebuah efektivitas dari program tidak hanya ditentukan dari sisi teknis saja, namun juga sisi penerimaan atau pemahaman. Program yang canggih, namun bila tidak dipahami atau diterima maka tidak akan membawa manfaat. Sehingga perlu ada keseimbangan. Fokus tidak hanya kepada sisi teknis, namun juga kepada sisi pemahaman. Penyusun program harus juga memahami bagaimana membuat programnya dapat diterima. Bagaimana cara mengkomunikasikannya. Kepada siapa harus dikomunikasikan. Semua dibalut dalam sebuah strategi komunikasi. Banyaknya media yang digunakan bukan suatu jaminan. Tetapi pemahaman kepada siapa dan media apa yang digunakan akan menentukan hasil akhir. Penggunaan media yang berlebihan malah akan menimbulkan resistensi dari program. Try to find the right amount, itu kuncinya.
Kita memerlukan sensitivitas yang tinggi atas lingkungan, sehingga setiap saat mampu melakukan intervensi yang diperlukan. Sensistivitas tidak diperoleh dari belakang meja, namun dari banyak berinteraksi dengan manusia. Semakin mampu berinteraksi dengan manusia dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda, maka semakin baik kita mengasah kemampuan sensistivitas kita. Tidak perlu banyak bicara, yang perlu dilakukan justru banyak mendengar. Pada saat itu komunikasi bukan ingin menyampaikan pesan, namun lebih banyak mendengar reaksi. Kemampuan ini penting untuk menjaga sukse implementasi program budaya kerja.