Otoritas Perubahan

Setiap perubahan mengandung dua unsur. Lama dan baru. Perubahan bisa menjadi lebih baik, atau sebaliknya. Untuk itu dibutuhkan ukuran yang jelas sebagai baseline, sehingga terukur. Pembuktian bahwa menjadi lebih baik bukan bersifat kualitatif, harus harus dapat dikuantifisir. Hal ini yang terkadang dilupakan dalam suatu proses perubahan. Pembawa perubahan merasa dirinya telah membawa perbaikan, sementara yang diubah malah merasa menjadi lebih buruk. Tanpa ukuran yang jelas yang akan terjadi hanya sebuah justifikasi terhadap sebuah kondisi yang cenderung berpihak kepada yang sedang berkuasa.

 

Sebagai pihak yang diubah, seseorang akan selalu bertanya what’s in it for me. Perubahan yang mengganggu kenyamanan dan tidak mampu memberikan visi ke depan hanya akan berujung dengan sebuah kegagalan. Penduduk Jakarta Selatan beberapa tahun terakhir amat terganggu kenyamanannya dimana jalan semakin macet karena pembangunan MRT. Namun demikian setiap orang akan beradaptasi dengan perubahan tersebut karena paham bahwa akan mendapat manfaat memiliki moda transportasi yang nyaman di masa mendatang. Namun demikian apabila jalanan semakin macet tanpa ada alasan yang jelas, setiap orang yang terganggu akan resisten dengan perubahan tersebut. Bila pemerintah daerah mengatakan bahwa kemacetan tersebut diakibatkan oleh perbaikan drainase atau galian kabel, mungkin sebagian orang tidak akan tersentuh, sehingga tetap akan resisten terhgadap perubahan.

 

Dari ilustrasi di atas terlihat bahwa unsur terpenting dalam sebuah perubahan adalah komunikasi. Terkadang unsur terpenting ini dilupakan. Pihak yang berkuasa bisa dengan sesuka hati melakukan perubahan karena memiliki kewenangan, namun tidak akan mampu memenangkan hati yang diubah. Hasil dari sebuah proses perubahan dengan pemaksaan dengan keikutsertaan akan sangat berbeda. Yang pertama dianggap sebagai beban, sementara yang terakhir dianggap sebagai harapan. Yang terakhir akan memberikan hasil berlipat ganda. Komunikasi sendiri tidak semata mengeluarkan pengumuman, menyusun sebuah poster atau membuat email blast. Tapi materi dari komunikasi tersebut yang terpenting. Mampukah menyentuh setiap individu sehingga mengubah  paradigma dari semula beban menjadi harapan?

 

Salah satu penyebab utama kegagalan suatu perubahan adalah ketidakmampuan mambangun tim perubahan. Meskipun keinginan untuk berubah ini datang dari orang nomor satu, namun sendirian yang bersangkutan tidak akan mampu mengubah. Dia harus memiliki tim yang solid yang beranggotakan dari berbagai lapisan. Pada setiap organisasi akan terdapat pemimpin informal. Adalah penting bagi pembawa perubahan untuk mengidentifikasi pemimpin informal tersebut  dan merangkulnya untuk menjadi bagian dari tim perubahan. Tentunya perlu upaya tersendiri untuk menumbuhkan kepercayaan dari individu-individu tersebut akan rencana perubahan, namun apabila berhasil maka perubahan akan dipastikan berjalan dengan lancar.

 

Di Indonesia salah satu budaya yang kurang baik adalah setiap berganti pimpinan, berganti pula kebijakan. Budaya yang kurang baik ini tidak perlu dipertahankan dan dilestarikan. Mengapa tidak melanjutkan yang sudah baik dan membuatnya menjadi lebih baik? Barangkali karena pemimpin yang digantikan memberikan standar yang sangat tinggi, sehingga pemimpin yang baru kebingungan mau melakukan perubahan apa. Pada saat itu bila tidak menggunakan kewenangannya secara bijaksana, pemimpin baru tersebut akan mengajak kita pada keruntuhan organisasi. Kita yang sudah bersusah payah membangun sejak awal hanya bisa mengelus dada dan beristighfar

Leave a comment