Salah satu karateristik milenial adalah mereka ingin selalu mendapatkan pengalaman dari yang yang dikerjakannya. Bila dalam proses penyelesaiannya mereka harus mengalami kesulitan, mereka tetap menikmati proses yang dijalani sampai selesai. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang perlu mendapat arahan pada setiap tahapan, mereka cenderung untuk melaksanakan tugasnya dengan cara dan jalannya sendiri. Saat ini milenial menjadi komposisi terbesar dari pekerja. Mereka sudah mencapai sekitar 60-70% dari total pekerja. Melihat karateristik milenial yang demikian, sudah saatnya organisasi juga menyesuaikan menjadi organisasi pembelajar sehingga memberi kesempatan kepada milenial untuk mengembangkan kompetensinya secara mandiri.
Saat ini sistem informasi sudah semakin canggih, oleh karena itu organisasi harus mampu menciptakan sebuah mekanisme dimana pengembangan talenta tidak lagi tergantung inisiatif organisasi, tetapi lebih banyak atas dasar inisiatif talenta. Setiap orang didorong untuk peka terhadap lingkungan yang memberi pengaruh kepada kinerja organisasi. Setelah itu mereka diharapkan menyumbangkan pemikiran atau gagasan bagaimana organisasi beradaptasi dengan perubahan lingkungan tersebut. Apabila mekanisme ini sudah terbentuk dan berjalan dengan baik, maka akan terdapat sekian banyak gagasan untuk perubahan sehingga menjadikan organisasi atau perusahaan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan bahkan mampu berkinerja lebih baik.
Tidak hanya menciptakan organisasi yang dinamis terhadap perubahan, tetapi organisasi juga perlu memberikan kesempatan pengembangan secara mandiri kepada talenta yang dimilikinya. Salah satu contoh adalah menciptakan materi atau modul pengembangan yang dapat diakses secara online. Dengan demikian talenta organisasi dapat mengakses materi tersebut setiap saat. Organisasi juga memberikan fasilitas ruang diskusi yang memadai baik secara online maupun fasilitas fisik. Dengan demikian proses diskusi berjalan dengan baik, sehingga interaksi tersebut kemudian secara perlahan akan mengembangkan talenta yang yang dimiliki secara optimal. Pelaksanaan seminar atau webinar juga diperbankan sehingga mereka dapat melakukan perbandingan apa yang dilakukan dengan kesuksesan orang lain. Organisasi perlu memastikan baik narasumber maupun diskusi yang terjadi bukan melulu kepada pengetahuan teknis, namun juga aspek perilaku manusianya. Dalam satu tingkatan tertentu, talenta hanya perlu diberikan inspirasi untuk kemudian mereka memotivasi diri sendiri untuk menjadi lebih baik.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pengmbangan mandiri tersebut, organisasi juga perlu melibatkan atasan melalui mekanisme mentoring. Ada beberapa alasan untuk melibatkan atasan, pertama atasan tentunya lebih berpengalaman dengan bisa menjadi narasumber. Selanjutnya atasan juga bisa sekaligus memantau proses diskusi apakah sudah selaras dengan kebutuhan organisasi. Terakhir, atasan juga bisa menjadi kepanjangan tangan organisasi untuk mengidentifikasi talent yang potensial untuk masuk ke dalam pool yang selanjutnya akan dikembangkan secara khusus dan sistematis oleh organisasi. Umumnya talenta akan lebih termotivasi apabila kegiatan yang dilakukannya mendapat perhatian atau dipantau oleh organisasi sehingga mereka akan berlomba-lomba untuk mengembangkan kompetensi mereka.
Kesalahan umum dalam pengelolaan talenta biasanya disebabkan oleh generation gap. Para pimpinan yang membuat keputusan berasal dari generasi sebelumnya yang memiliki karateristik dan pola pikir yang beda. Mereka berfikir dan kemudian membuat sebuah kebijakan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Sementara dunia sudah amat berubah, mereka lupa untuk menyesuaikan kebijakan yang disusun sesuai dengan obyeknya. Organisasi pembelajar salah satu jawabannya. Pelaksanaan pelatihan dalam kelas yang dilakukan secara masif sudah tidak sesuai lagi bagi milenial. Materi yang disusun secara terstruktur dan komprehensif juga bukan lagi masanya, setiap talenta harus diberikan kebebasan mengembangan diri sesuai dengan kebutuhannya, sementara kebutuhannya tidak selalu sama dengan kebutuhan organisasi.