Bangun tidur waktu subuh, kapal kami berlayar menuju pulau Padar. Hanya saya dan kapten yang terbangun, semua termasuk awak kapal masih lelap tertidur. Saya berjalan menuju bagian depan kapal dan merasakan perasaan yang luar biasa. Kecil sekali kita dibandingkan Tuhan Yang Maha Segala. Sejauh mata memandang hanyalah air dengan pulau di kejauhan.
Bukan ingin membahas mengenai kebesaran Allah swt Yang Maha Segala, tetapi saya ingin membahas mengenai “trust” atau kepercayaan. Maksudnya adalah kepercayaan kami kepada kapten kapal selaku nakhoda yang membawa kita ke arah tujuan. Sedikitpun tidak ada protes bagaimana cara atau jalur mana yang diambil oleh kapten. Kami percaya seluruhnya bahwa kami akan dibawa ke arah tujuan kami yaitu pulau Padar. Meyakini bahwa dalam waktu sejam dari sekarang kami akan tiba pada waktu tujuan.
Seandainya hal tersebut dilakukan di kantor akan amat luar biasa. Kita perlu sepakat di awal tujuan, akan dibawa kemana organisasi ke depan. Dalam kurun waktu tertentu tujuan apa yang akan dicapai. Hal ini mendasar sekali, kemudian nakhoda organisasi harus memberi keyakinan kepada seluruh penumpang bahwa itu adalah tujuan yang benar. Setelah percaya, seluruh penumpang akan menpersiapkan diri sesuai dengan masing-masing tugasnya untuk menyiapkan perbekalan dan kondisi mental untuk perjalanan panjang tersebut.
Sekiranya sejak awal nakhoda tidak dipercaya atau tidak mendapat dukungan untuk mencapai tujuan, apakah dia seorang diri mampu mencapai tujuan? Tentu jawabnya tidak. Mungkin ada sekian banyak pekerjaan yang harus dilakukan pada saat bersamaan, tidak mungkin pekerjaan seorang diri. Lain halnya bila kemudian dia memilih awak kapal yang patuh atau percaya dengan tujuan sang Kapten, namun tidak konpeten dalam melaksanakan tugasnya. Apakah dia akan sampai juga kepada tujuan? Mungkin sampai, tapi probabilita terbesarnya adalah sebuah kegagalan.
Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Sang Kapten harus membuat “percaya” para awak kapal dan penumpang. Bagaimana caranya? Tentu dengan berbagai macam pendekatan yang berbeda. Setiap awak kapal memiliki keunikan dan perlu pendekatan yang berbeda. Ada yang perlu pendekatan secara logika, maka data dan informasi relevan dibutuhkan untuk meyakinkan. Ada yang perlu pendekatan informal, diajak ngopi dulu sambil bicara sana sini baru kemudian masuk ke tujuan. Namun awak kapal akan merasa dimanusiakan. Ada juga yang perlu dijelaskan insentif yang akan diperoleh jika sampai pada tujuan. Untuk ini perlu dipersiapkan paket remunerasi atau kesempatan promosi yang jelas.
Tidak mungkin sang Kapten mampu meyakinkan awak kapal hanya dengan berkata, “saya orang nomor satu di kapal ini dan kalian harus menurut kepada saya semua”. Setidaknya pendekatan yang paling lemah adalah memberi informasi insentif apa yang akan diterima pada akhir tujuan. Bahwa awak kapal akan menerima sekian rupiah akan membuat mereka patuh pada perintah sang kapten. Sang Kapten boleh saja memilih seseorang menjadi tangan kanannya dalam perjalanan, tapi orang ini juga harus diterima seluruh awak kapal. Apalagi sekiranya tangan kanan ini pada pelaksanaannya otoriter atau semau kehendaknya saja. Pasti dalam perjalanan akan terjadi pemberontakan yang membuat perjalanan terganggu, dan bahkan tidak akan sampai pada tujuan.
Kepercayaan adalah bukan given situation, tetapi sesuatu hal yang perlu dibangun. Celakanya kepercayaan juga bisa hilang dalam semalam. Sudahlah membangunnya lama, tetapi bisa hilang sekejap. Jadi membangun kepercayaan adalah suatu proses sendiri, dan menjaga kepercayaan adalah sebuah proses yang lain. Kita bukan kyai atau ulama yang memiliki pengikut fanatik yang selalu patuh dan menurut terhadap apa yang kita perintahkan. Anak buah kita tidak fanatik, anak buah kita memiliki kecerdasan intelektualita yang tinggi, dan anak buah kita hiduo di era informasi yang bisa membandingkan kita kapan saja dengan pemimpin lain. Apabila mereka merasa bahwa tujuan kapal ini tidak sama dengan tujuan pribadinya, mereka akan berpindah ke kapal yang lain, atau paling tidak hatinya yang akan berpindah.
Sesederhana itu.
Salam pak Rudi,
saya mohon izin untuk share tulisan pak Rudi. berharap ini bisa jadi booster untuk tim kami. terima kasih.
tulisan bapak sangat menginspirasi.
LikeLike
trust is everything pak 😀
LikeLike